Kamis, 02 Juli 2009

PERTEMUAN DIKAKI SINGGALANG

Gembira dan sedih itulah perasaan yang aku rasakan kawan. Gembira, karena aku dan ratusan anak-anak kelas 3 di SMU ku telah menerima kelulusan setelah menjalani pendidikan selama 3 tahun di bangku sekolah. Sedih, karena ada sekitar 7 siswa yang tidak lulus. Mereka harus melakukan ujian ulang dan salah satu dari 7 siswa tersebut adalah teman sebangku, teman bermain bahkan dia saudaraku di Papalasix Edelweis (organisasi pecinta alam SMUN 6 Jambi). Tak perlulah aku sebutkan namanya kawan, mungkin dia juga tak ingin namanya disebutkan.

Aku harus melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, dan aku tak ingin meneruskan sekolahku dikota (Jambi) ini lagi. Aku ingin melanjutkannya di kota lain, aku berharap bila melanjutkannya dikota lain bisa menambah pengalamanku, menjadikanku lebih mandiri dan lebih dewasa tentunya. Dan salah satu kota pilihanku untuk menuntut ilmu adalah kota padang, Sumatra barat. Disana ada sebuah perguruan tinggi yang cukup terkenal, universitas bung hatta namanya. Dan aku bercita-cita mengambil jurusan teknik sipil disana kawan.

Setelah berbicara dengan kedua orangtuaku, akhirnya mereka mengijinkanku kekota padang untuk mencari informasi seputar pendidikan yang ditawarkan di universitas tersebut. Uang dan restu telah diberikan ibuku. Saatnya aku berangkat, mumpung lagi libur panjang tak ada salahnya sekalian aku berwisata disana pikirku. Kotapadang terkenal dengan kota wisata dipulau Sumatra.

Disaat yang bersamaan 4 orang temanku Ade dwi syahputra (Ade), Mazharul haq (Arul), Hilman dinata (Hilman), dan Ariyandi (Ari) berencana akan liburan kekota padang juga. Namun Arul dan Ari akan melakukan ekspedisi pendakian gunung singgalang,di daerah Bukit Tinggi jadi kami tak bisa berangkat bersamaan. Mereka berdua harus berangkat lebih dahulu, karena seluruh anggota tim ekspedisi (SMU N 1 Jambi) tersebut sudah menunggu mereka. Tak apalah, aku, Ade dan Hilman akan berangkat sehari setelah Arul dan Ari. Dan kami bertiga berjanji bertemu dengan Arul dan Ari di kaki gunung singgalang.

Tak ragu lagi aku, ade dan hilman akan berangkat. Tiket pun telah dibeli. Kami bertiga menggunakan jasa bus family raya. Disaat kami akan memulai perjalanan mungkin Arul dan Ari telah berada di kotapadang. 12 jam harus kami lewati agar sampai disana. Selang beberapa jam kami lewati, bus berhenti sejenak untuk beristirahat. Kami bertiga pun turun dari bus untuk mencari makanan. Setelah semua bersiap berangkat kembali entah kenapa semua pria yang ada didalam bus disuruh turun oleh kondektur bus, kami bertiga pun dengan sigap mengikuti perintahnya. Sial, ternyata bus mogok kawan, kami harus mendorong bus agar dapat berjalan kembali. Tadinya kami pikir jasa bus ini yang terbaik dikota kami, tapi sepertinya kami salah. Haha…

Setelah kejadian yang menguras tenaga itu perjalanan berlangsung lancar. Kami pun tiba tepat pada waktunya, sekitar pukul 3 pagi kami telah sampai didaerah bukit tinggi. Namun untuk mencapai kaki gunung singgalang membutuhkan waktu 2 jam dengan berjalan kaki. Jalanan didepan kami masih gelap kawan, hal itu membuat jantung kami bergetar takut dan berpikir ulang untuk terus berjalan menuju tempat pertemuan. Akhirnya kami memutuskan untuk berhenti sejenak menunggu matahari terbit dan beristirahat di sebuah mesjid.

“kita sholat subuh dulu yuk kawan!!” ujar Ade mengajak.

Wow, air untuk mengambil wudhu dingin sangat kawan. Seperti es yang baru dikeluarkan dari freezer. Aku tak tahan dengan dinginnya, itulah alasan agar aku tak sholat selain karena malas. Haha…

Setelah Ade dan Hilman sholat dan fajar pun telah tiba kami kembali melanjutkan perjalanan kawan. Kami tak tau arah menuju kaki gunung tersebut, satu-satunya cara agar sampai kesana adalah dengan bertanya dengan penduduk sekitar. Beberapa jam berjalan kami belum juga tiba, lelah sangat kawan. Tapi pemandangan disekitar kami sangat menarik. Tepat didepan kami berdiri kokoh gunung Merapi padang yang berhadap-hadapan dengan gunung singgalang. Gunung merapi itu menyemburkan asap tebal dimulutnya, dan dibawahnya terhampar luas danau maninjau yang mengelilinginya. Berterima kasihlah kepada tuhan yang memberikan kesempatan untuk melihat itu semua kawan.

Napas kami sudah sesak, tenggorokan pun telah kering. Namun belum juga kami melihat ujung dari perjalanan ini. Ada seorang pria tua yang melintas didepan kami. Ade pun bertanya kepada beliau

“pak kalau mau ke pemancar masih jauh ya pak?”

“sedikit lagi koq, ikuti saja jalan ini!!” Pria itu menjawab.

Haha.. senyum pun kembali terpancar dimuka kami. Seperti ada seberkas sinar harapan terpancar didepan sana. Perjalanan pun dilanjutkan. Namun, telah lama berjalan belum sampai juga kawan. Jalanan yang kami lalui pun menjadi berkelok-kelok membuat kaki ini semakin bergetar lemas. Tapi tempat pertemuan itu sudah terlihat oleh mata kami. Memberikan sedikit kekuatan bagi kami. Tiba-tiba terdengar seperti suara gemuruh mesin, ternyata ada angkutan menuju kaki gunung ini kawan. Waduh, bodohnya kami. Kenapa tak naik kendaraan ini saja pikirku. Huuh..

Akhirnya kami sampai di tempat pertemuan, tapi Arul dan Ari tak ada di tempat. Apa mungkin mereka belum turun dari puncak sana. Jika kami tak bertemu mereka berdua hari ini sial sangat nasib kami kawan. Aku coba menelepon ke handphone Ari, dan ternyata masuk ada sinyal ternyata diatas sana. Benar saja kawan, mereka belum turun besok mungkin mereka baru turun. Sudahlah, sebelum kami terhalang oleh malam akhirnya kami putuskan untuk pulang kerumah keluarga Ade didaerah Matur, masih di bukit tinggi. Namun perjalanan pulang tertunda sejenak oleh hujan. Suhu semakin dingin karena hujan lebat mengguyur, untung saja ada sebuah rumah kosong dan kami berteduh didalamnya. Tak tahan dengan dingin yang mendera kami putuskan untuk membuat api unggun didalam rumah agar dapat sedikit membantu menghangatkan tubuh. Haha.. bukannya hangat yang kami rasa malah asap mengepul didalam rumah itu.

Setelah hujan reda kami pulang, kembali berjalan kaki untuk menuju jalan raya. Aku harus naik angkot lagi kawan, jalur yang dilalui pun berkelok-kelok menuju daerah Matur. Isi perutku seperti ingin keluar rasanya, kepalaku pusing sangat kawan. Tapi itu hanya sesaat, dan akhirnya sampai dirumah persinggahan kami. Disana dingin sangat, ingin langsung tidur dan berselimut rasanya.

Keesokan harinya kami putuskan aku dan Hilman akan menjemut Arul dan Ari, Ade tetap tinggal dirumah agar menghemat ongkos katanya. Aku dan Hilman sudah tahu jalan yang akan kami tuju. Jadi Ade tak ikut juga tak apalah. Kali ini kami hanya berharap keberuntungan ada bersama kami, karena kami tak bisa lagi menelepon Ari. Pulsa handphone ku habis karena ibuku menelepon dan sialnya kena roaming kawan. Sebenarnya aku tahu alasan Ade tak ikut, karena malas. Piakak (picik) sekali kawanku satu itu. Haha..

Aku dan Hilman akhirnya bertemu juga dengan Arul dan Ari, dan kami berempat bersama-sama pulang. Banyak yang harus direncanakan. Sesampainya dirumah kami berlima berkumpul, bercanda dan merencanakan untuk melanjutkan perjalanan kekota padang. Karena tujuanku yang sebenarnya belum tercapai. Ada cerita menarik disela-sela kami berkumpul, kami berlima membantu salah satu saudara Ade untuk memetik cabai dikebun yang ada dibelakang rumah. Luas sekali kebunnya, cabainya merah segar. Lelah membantu, perut pun keroncongan. Tuan rumah pun menyajikan makanan ala kadarnya. Semangkuk sambal ayam ala padang sebagai lauk dan nasi tentunya didepan mata kami. Dengan napsu yang menggebu-gebu Arul pun bertindak kesetanan. Banyak sangat sambal yang diambilnya. Hanya beberapa sendok setelah Arul menyantap makanannya, lidahnya seperti terbakar. Jari-jari tangannya menggaruk-garuk kepala. Mulutnya seperti naga yang ingin menyemburkan api. Dan dia pun langsung mengibarkan bendera putih tak ingin melahap makanan itu lagi. Banyak sek

ali yang tersisa dipiringnya. Memang pedas sangat sambal itu kurasakan kawan. Tak pernah kurasa pedas seperti itu.

“Haha… syukur kau rul. Makanya jangan maruk!!” kataku

Sehari telah terlewati, akhirnya kami berlima memutuskan untuk berpamitan dengan tuan rumah. Kami akan menuju kota padang. Disana kami akan menginap dirumah saudara Ari. Rumah saudara Ari itu berdekatan dengan jembatan siti nurbaya, berdekatan pula dengan pantai. Jadi kami bisa bermain-main disana, mengabadikannya lewat sebuah gambar.

Tapi sebelum berangkat ke kota padang kami mengunjungi jam gadang terlebih dahulu, berfoto disana. Lalu kami melihat-lihat isi goa jepang nan gelap. Setelah puas barulah kami berangkat kekota padang.

Setelah beberapa jam diatas bus akhirnya sampailah kami dikota padang, dan langsung saja menuju rumah persinggahan kami. Cukup nyaman di rumah saudara Ari itu, tapi ada satu hal yang membuat kami sangat tak nyaman kawan. Ya ampun, MCK (mandi cuci kakus)nya kawan kotor sangat. Lantainya licin, semen yang ada telah tertutup oleh ampas santan yang tebal sangat. Lumut didindingnya. Baunya menyengat, bau santan basi kawan. Bau kotoran saat kami BAB pun mungkin bisa kalah dengan bau santan itu kawan. Yuck,, menjijikkan. Tapi apa boleh buat, selama kami berada disana setidaknya minimal 2 kali sehari kami harus mengujungi kamar mandi tersebut. Haha..

Dan satu lagi yang membuat tak nyaman, salah seorang dari keluarga Ari yang kami sebut dengan panggilan Uda (sebutan saudara laki-laki dalam bahasa padang) belum kembali selama beberapa hari dari pekerjaannya sebagai nelayan. Uda menghilang ditengah laut yang ganas, hal itu membuat kami sedikit takut akan roh uda yang akan masuk kedalam mimpi kami disaat kami tidur nanti. Seperti anak kecil memang, persis juga mirip orang dulu yang percaya dengan mitos. Tapi itulah yang kami rasakan, memilih untuk tak tidur daripada bermimpi melihat wajah uda. Hahaha….

Hohoho,, saatnya kami bermain dipantai. Dengan senyum lebar kami bercanda di deburan ombak. Tiba-tiba Arul melihat seorang gadis yang bermein air sendirian.

“wuy, kenalan ama cewek itu yuk!!’ kata Arul

Kontan Hilman yang mata keranjang menyetujui gagasan keturunan India itu. Berkenalanlah mereka berdua dengan gadis itu, sedangkan aku, Ade dan Ari tetap bersama dan tak ikut merayu gadis itu. Haha..

Sesaat Arul dan Hilman berbincang ,gadis itu pun berkata.

“ aku tinggal dihotel loh, mau main ke hotelku gak??”

Haha.. tampang Arul dan Hilman sumringah, seperti ada 2 tanduk yang tumbuh diatas kepala mereka. Tak tahulah aku apa yang ada dipikiran mereka. Tapi entah kenapa mereka menolak tawaran gadis itu. Dan mereka berdua kembali bersama kami.

Tiba-tiba seorang penjaga pantai berteriak “hey, jangan berenang terlalu jauh!!”

Dia meneriaki gadis yang berkenalan dengan Arul dan Hilman tadi.

Gadis itu menjawab “ biarin, biar saja aku mati!!”

Haaa,, kami kaget mendengarnya. Usut punya usut, ternyata gadis itu stress kawan, gila, sakit jiwa tepatnya. Hal itu kami ketahui dari sang penjaga pantai. Hahaha.. Arul dan Hilman berkenalan dengan orang gila. Syukurin!!!

Sembari Ade, Arul dan Hilman bermain dipantai aku mengajak Ari ke universitas Bung hatta untuk mencari informasi. Karena itulah tujuanku sebenarnya kekota ini. hanya sebentar kami ke kampus tersebut, telah banyak yang aku ketahui tentang universitas tersebut dan seluruh informasi yang aku dapat akan menjadi laporanku kepada kedua orang tuaku.

Malam harinya kami berjalan-jalan di jembatan siti nurbaya, ramai sekali dijembatan itu kawan. Bermacam makanan dijajakan disana. Arul ingin sekali makan pisang kepit (makanan khas Sumatra barat). Tapi uang kami tak banyak lagi, disinilah persahabatan kami diuji oleh keegoisan masing-masing. Ade yang tak setuju dengan gagasan Arul dan sisanya pro dengan Arul. Tapi, Uang yang tinggal sedikit tak memungkinkan untuk membeli makanan itu satu porsi perorang. Keputusan pun diambil, satu porsi pisang kepit untuk berlima. Haha.. kebersamaan yang tak terharga nilainya dan tak bisa dibeli oleh siapapun. Nikmat sekali pisang kepit itu, disantap bersama dibawah rintikan hujan.

Sudah satu minggu kami dikota ini, tujuanku telah tercapai. Batin temanku pun telah terpuaskan dengan liburan disini. Saatnya kami kembali ke pangkuan orang tua di kota (Jambi) tercinta. Sisa uang yang ada tak memungkinkan untuk membawa oleh-oleh ikut pulang kerumah. Hal itu membawa perdebatan diantara kami berlima. Beberapa ingin pulang dengan bus ekonomi dan tetap membeli oleh-oleh untuk keluarga dirumah. Sebagian lagi ingin naik bus ber AC walaupun tanpa buah tangan, yang penting nyaman diperjalanan. Uangku sebenarnya cukup untuk ongkos dengan bus ber AC dan membeli oleh-oleh. Tapi salah satu teman kami yang tadinya kami menaruh harapan padanya karena kami anggap dia mampu ternyata nihil. Uang untuk bus ekonomi saja dia tak punya. Terpaksa uangku yang menjadi korban, tak apalah aku tak ingin bertengkar gara-gara perkara ini.

Perdebatan berakhir dengan keinginan untuk naik bus ber AC. Beruntung memang, Ari dibekali buah tangan oleh keluarganya. Banyak sekali oleh-oleh yang dibawa berupa keripik keras. Serta sarapan berupa kue serabi yang nikmat sangat kawan, ternyata kue inilah yang menyebabkan kamar mandi rumah itu penuh santan basi kawan. Kami pikir di Jambi Ari akan membagikan beberapa keripiik kerasnya untuk kami bawa pulang kerumah masing-masing. Haha.. berharap.

Saatnya pulang, kami memutuskan tak ingin menggunakan jasa family raya lagi, takut kejadian disaat berangkat terjadi lagi. Kali ini kami menggunakan jasa JATRA (Jambi transport). Disaat yang bersamaan tim ekspedisi yang mendaki gunung singgalang bersama Arul dan Ari juga berangkat pulang ke Jambi. Dan mereka menggunakan bus Family Raya yang kami gunakan saat berangkat kekota ini. beberapa jam bus berjalan akhirnya bus kami berpapasan dengan bus tim ekspedisi tersebut, benar saja kawan bus family raya itu mogok lagi. Untung saja kami tak naik bus itu lagi pikirku. Hahaha..

Bus pun berhenti untuk beristirahat, disebuah warung didekat tempat peristirahatan ada penjual oleh-oleh. Dengan sisa uangku aku pun berinisiatif membeli beberapa bungkus keripik sanjay (keripik balado) untuk oleh-oleh. Secara diam-diam aku memberikan satu bungkus untuk Ade, bukan bermaksud berpilih kasih tapi aku anggap dialah yang labih pantas aku berikan makanan itu untuk keluarganya. Bus pun kembali berjalan dari peristirahatan, selama 12 jam kami lalui dan akhirnya sampai dikota kecil nan bikin kangen itu. Turun dari bus tanpa malu-malu Arul meminta sedikit oleh-olehnya untuk kami. Tapi dengan muka ditekuk dan sedikit merengut Ari tak mau membagikan keripik kerasnya. Hanya untuk keluarganya dia beralasan. Kembali persahabatan kami diuji kawan,keegoisan masing-masing tak bisa diredam. Tapi sudahlah, biar saja Ari tak mau berbagi yang penting aku juga sudah membawa beberapa bungkus oleh-oleh pikirku picik. Kami berpisah menuju rumah masing-masing. Ade menunggu jemputan, Ari naek angkutan umum sendiri, sedang aku, Arul dan Hilman naek angkutan umum bersamaan karena rumah kami satu arah.

Itulah akhir perjalanan panjang ini, aku semakin tahu sifat masing-masing temanku. Membuatku rindu dengan teman-temanku itu. Berpikir akan kembali melakukan perjalanan panjang dan tidak menggunakan jasa Family Raya tentunya. Hahaha..

Bye…