Rabu, 08 April 2009

SENANDUNG LAGU HUJAN

Untuk merayakan hari jadi temanku, aku bersama teman-temanku berencana camping (berkemah) di hutan buluran. Perencanaan telah matang, alat-alat camping dan makanan-makanan siap saji telah dipersiapkan. Tak banyak yang akan ikut dengan kegiatan kami ini. Hanya sekitar 10 orang yang akan berpesta ala anak alam. Mereka adalah Mazharul haq (Arul), Arif wibowo (Arif), Budi setiawan (Budi/pak de), Riko midaya (Riko), Randy hidayatullah (Randy), Rocky, Suwandy (Wandy), Vertikal lature (Veri) serta aku dan Ade yang berulang tahun. Telah 18 tahun Ade ada di bumi.

Hutan buluran adalah satu tempat favorit kami untuk berkemah, biasanya satu bulan sekali di hari sabtu dan minggu kami selalu berkunjung dan bermalam di hutan ini. Lokasi yang kami pilih tak terlalu jauh dari pemukiman warga. Agar mudah meminta pertolongan jika terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Sekitar 100 meter dari belakang rumah Ketua RT kampung itu kami memilih lokasi tenda akan ditegakkan. Namun kami harus menyebrangi sebuah sungai kecil agar dapat mencapai lokasi. Orang-orang dan beberapa pecinta alam menyebut sungai ini dengan nama sungai kehidupan kawan.

Sore hari kami telah berkumpul di lokasi, pembagian tugas pun telah ditetapkan. Sebagian mendirikan tenda, sebagian lagi mencari kayu bakar untuk menyalakan api unggun malam harinya. Sekeliling tenda kami tebar garam agar hewan berbisa seperti ular enggan melewatinya. Malam ini menjadi milik kami sepenuhnya, tak boleh ada makhluk lain yang ikut bergabung dengan acara kami. Kami raja di lokasi ini untuk 24 jam kedepan. Haha..

Hari berangsur gelap, lampu badai (lampu teplok) mulai kami nyalakan setidaknya sedikit menerangi tenda-tenda kami. Peralatan memasak pun kami keluarkan dari carriel (tas ransel ukuran besar), bersiap membuat penganan pengisi perut dan minuman penghangat tubuh. Beberapa gelas teh hangat lumayan menetralkan udara malam yang semakin dingin menghujam badan. Petikkan gitar dari jari-jari yang mahir memainkannya terdengar memanja telinga, dan memacu hati untuk ikut bernyanyi dalam alunan suara gitar itu kawan.

Hmmm, malam semakin larut, udara pun semakin dingin. Tapi api unggun belum saatnya untuk dinyalakan. Kami akan menyalakan api unggun tepat tengah malam. Saat itulah kami anggap puncak dari berkemah sebenarnya. Badan yang bergetar karena lapar membuat kami mencoba memasak sesuatu. Indomie sudah pasti kawan, dan menanak nasi yang lebih mirip bubur saat sudah matang. Haha..

Tapi lumayanlah daripada cacing diperut terus berontak kawan.

Tepat tengah malam ritual pembakaran api unggun dimulai, kayu-kayu yang telah dipersiapkankan ditumpuk sedemikian rupa agar menghasilkan api yang besar. Tak lupa dibawah tumpukkan api itu kami letakkan ban bekas yang kami ambil di tempat pembuangan ban bekas kawan. Ban itu akan membuat api menyala sedikit lebih lama menurut kami. Tapi imbasnya seluruh benda yang terkena asapnya akan menjadi hitam, termasuk badan kami. Haha..

Api pun telah dinyalakan, kami mengelilingi api itu. Entah apa yang kami lakukan, seperti memuja api saja. Bernyanyi-nyanyi tanpa rasa malu. Yang ada dipikiran kami hanya bersenang-senang dan bersenang-senang. Tak pedulikan orang lain jika mereka tahu yang kami lakukan. Mengambil foto ditengah cahaya api yang besar, bercanda, tertawa seperti orang gila. Aku saja malu dengan kelakuanku itu. Haha..

Bodohnya lagi aku dan teman-temanku mengikuti ajakan Riko untuk berfoto dengan hanya menggunakan kancut (celana dalam). Seperti tak punya rasa malu kami bergaya dengan celana segitiga itu. Haha..

Dengan warna berbeda dari masing-masing kancut kami, bermacam gaya pula yang dipakai untuk diabadikan dalam sebuah gambar. Kancutku berwarna abu-abu kawan, Ade pun sama denganku. Wandy, Arif dan Budi menggunakan warna putih. Hijau yang dipakai Riko dan Rocky. Yang aneh hanya Arul, dia menggunakan warna pink (merah jambu). Haha.. mungkin Arul sakit kali ya. Ragu aku dengan kejantanannya. Yang lebih parah lagi si Randy kawan, dia tak pakai kancut. Kancutnya basah saat menyebrangi sungai dan itu kancut satu-satunya. Haha.. tapi dengan pedenya Randy ikut berfoto bersama. Halah,, kelihatan P*N*S si Randy kawan. Haha.. Kami lebih mirip pasukan berkancut daripada anak pecinta alam.

Malam semakin larut, mata tak kuat lagi menahan rasa kantuk. Secangkir kopi pun tak mampu melawan keinginan untuk bermimpi. Hanya beberapa orang yang tersisa untuk berjaga-jaga termasuk aku, yang lainnya sudah dialam bawah sadar. Budi pun mengambil gitar, aku tahu dia tak bisa memainkan alat melodies itu. Dengan suara fals dan petikkan yang semrawut pak de pun besenandung.

“jalan hidupku masih panjang” bait 1

“kami memang pengamen jalanan” bait 2

Masih banyak lagi lirik-lirik tak jelas keluar dari mulutnya, menurutnya itu lagu ciptaannya sendiri. Halah,, lebih mirip jampi-jampian pemanggil hujan menurutku. Benar saja kawan, tak lama setelah budi melantunkan lagunya terdengar suara bergemuruh. Dari kejauhan terdengar air berjatuhan menuju tenda kami. Hujan kawan, lebat sangat hujannya. Kontan, semua yang tertidur didalam tenda terbangun, tenda kami tak tahan hujan kawan. Harus dilapisi terpal diatasnya agar air hujan tak tembus. Tanpa pikir panjang, terpal yang lumayan besar untuk kami duduk diangkat keatas tenda. Tapi semua sudah terlambat, semuanya sudah basah. Semakin dingin kawan. Bibir kami bergetar dibuatnya. Akibat hujan yang lebat itu kami tak tidur hingga fajar menjelang.

Pagi pun tiba, suhu tubuh kami kembali normal karena diterpa sinar matahari. Aku dan teman-teman membersihkan badan yang sudah sangat lusuh di sungai tepat didepan tenda kami. Lalu bersiap-siap pulang kerumah. Kembali merasakan empuknya kasur kamar kami dan bertemu teman-teman lain disekolah.

Nanti apabila foto-foto kami telah dicetak akan kupajang di mading sekolah pikirku, biar semua teman-temanku yang ikut berkemah merasakan malu yang tak tertahankan, walaupun aku juga akan merasakan hal yang sama. Hahaha….

Bye..