Kamis, 02 Juli 2009

PERTEMUAN DIKAKI SINGGALANG

Gembira dan sedih itulah perasaan yang aku rasakan kawan. Gembira, karena aku dan ratusan anak-anak kelas 3 di SMU ku telah menerima kelulusan setelah menjalani pendidikan selama 3 tahun di bangku sekolah. Sedih, karena ada sekitar 7 siswa yang tidak lulus. Mereka harus melakukan ujian ulang dan salah satu dari 7 siswa tersebut adalah teman sebangku, teman bermain bahkan dia saudaraku di Papalasix Edelweis (organisasi pecinta alam SMUN 6 Jambi). Tak perlulah aku sebutkan namanya kawan, mungkin dia juga tak ingin namanya disebutkan.

Aku harus melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, dan aku tak ingin meneruskan sekolahku dikota (Jambi) ini lagi. Aku ingin melanjutkannya di kota lain, aku berharap bila melanjutkannya dikota lain bisa menambah pengalamanku, menjadikanku lebih mandiri dan lebih dewasa tentunya. Dan salah satu kota pilihanku untuk menuntut ilmu adalah kota padang, Sumatra barat. Disana ada sebuah perguruan tinggi yang cukup terkenal, universitas bung hatta namanya. Dan aku bercita-cita mengambil jurusan teknik sipil disana kawan.

Setelah berbicara dengan kedua orangtuaku, akhirnya mereka mengijinkanku kekota padang untuk mencari informasi seputar pendidikan yang ditawarkan di universitas tersebut. Uang dan restu telah diberikan ibuku. Saatnya aku berangkat, mumpung lagi libur panjang tak ada salahnya sekalian aku berwisata disana pikirku. Kotapadang terkenal dengan kota wisata dipulau Sumatra.

Disaat yang bersamaan 4 orang temanku Ade dwi syahputra (Ade), Mazharul haq (Arul), Hilman dinata (Hilman), dan Ariyandi (Ari) berencana akan liburan kekota padang juga. Namun Arul dan Ari akan melakukan ekspedisi pendakian gunung singgalang,di daerah Bukit Tinggi jadi kami tak bisa berangkat bersamaan. Mereka berdua harus berangkat lebih dahulu, karena seluruh anggota tim ekspedisi (SMU N 1 Jambi) tersebut sudah menunggu mereka. Tak apalah, aku, Ade dan Hilman akan berangkat sehari setelah Arul dan Ari. Dan kami bertiga berjanji bertemu dengan Arul dan Ari di kaki gunung singgalang.

Tak ragu lagi aku, ade dan hilman akan berangkat. Tiket pun telah dibeli. Kami bertiga menggunakan jasa bus family raya. Disaat kami akan memulai perjalanan mungkin Arul dan Ari telah berada di kotapadang. 12 jam harus kami lewati agar sampai disana. Selang beberapa jam kami lewati, bus berhenti sejenak untuk beristirahat. Kami bertiga pun turun dari bus untuk mencari makanan. Setelah semua bersiap berangkat kembali entah kenapa semua pria yang ada didalam bus disuruh turun oleh kondektur bus, kami bertiga pun dengan sigap mengikuti perintahnya. Sial, ternyata bus mogok kawan, kami harus mendorong bus agar dapat berjalan kembali. Tadinya kami pikir jasa bus ini yang terbaik dikota kami, tapi sepertinya kami salah. Haha…

Setelah kejadian yang menguras tenaga itu perjalanan berlangsung lancar. Kami pun tiba tepat pada waktunya, sekitar pukul 3 pagi kami telah sampai didaerah bukit tinggi. Namun untuk mencapai kaki gunung singgalang membutuhkan waktu 2 jam dengan berjalan kaki. Jalanan didepan kami masih gelap kawan, hal itu membuat jantung kami bergetar takut dan berpikir ulang untuk terus berjalan menuju tempat pertemuan. Akhirnya kami memutuskan untuk berhenti sejenak menunggu matahari terbit dan beristirahat di sebuah mesjid.

“kita sholat subuh dulu yuk kawan!!” ujar Ade mengajak.

Wow, air untuk mengambil wudhu dingin sangat kawan. Seperti es yang baru dikeluarkan dari freezer. Aku tak tahan dengan dinginnya, itulah alasan agar aku tak sholat selain karena malas. Haha…

Setelah Ade dan Hilman sholat dan fajar pun telah tiba kami kembali melanjutkan perjalanan kawan. Kami tak tau arah menuju kaki gunung tersebut, satu-satunya cara agar sampai kesana adalah dengan bertanya dengan penduduk sekitar. Beberapa jam berjalan kami belum juga tiba, lelah sangat kawan. Tapi pemandangan disekitar kami sangat menarik. Tepat didepan kami berdiri kokoh gunung Merapi padang yang berhadap-hadapan dengan gunung singgalang. Gunung merapi itu menyemburkan asap tebal dimulutnya, dan dibawahnya terhampar luas danau maninjau yang mengelilinginya. Berterima kasihlah kepada tuhan yang memberikan kesempatan untuk melihat itu semua kawan.

Napas kami sudah sesak, tenggorokan pun telah kering. Namun belum juga kami melihat ujung dari perjalanan ini. Ada seorang pria tua yang melintas didepan kami. Ade pun bertanya kepada beliau

“pak kalau mau ke pemancar masih jauh ya pak?”

“sedikit lagi koq, ikuti saja jalan ini!!” Pria itu menjawab.

Haha.. senyum pun kembali terpancar dimuka kami. Seperti ada seberkas sinar harapan terpancar didepan sana. Perjalanan pun dilanjutkan. Namun, telah lama berjalan belum sampai juga kawan. Jalanan yang kami lalui pun menjadi berkelok-kelok membuat kaki ini semakin bergetar lemas. Tapi tempat pertemuan itu sudah terlihat oleh mata kami. Memberikan sedikit kekuatan bagi kami. Tiba-tiba terdengar seperti suara gemuruh mesin, ternyata ada angkutan menuju kaki gunung ini kawan. Waduh, bodohnya kami. Kenapa tak naik kendaraan ini saja pikirku. Huuh..

Akhirnya kami sampai di tempat pertemuan, tapi Arul dan Ari tak ada di tempat. Apa mungkin mereka belum turun dari puncak sana. Jika kami tak bertemu mereka berdua hari ini sial sangat nasib kami kawan. Aku coba menelepon ke handphone Ari, dan ternyata masuk ada sinyal ternyata diatas sana. Benar saja kawan, mereka belum turun besok mungkin mereka baru turun. Sudahlah, sebelum kami terhalang oleh malam akhirnya kami putuskan untuk pulang kerumah keluarga Ade didaerah Matur, masih di bukit tinggi. Namun perjalanan pulang tertunda sejenak oleh hujan. Suhu semakin dingin karena hujan lebat mengguyur, untung saja ada sebuah rumah kosong dan kami berteduh didalamnya. Tak tahan dengan dingin yang mendera kami putuskan untuk membuat api unggun didalam rumah agar dapat sedikit membantu menghangatkan tubuh. Haha.. bukannya hangat yang kami rasa malah asap mengepul didalam rumah itu.

Setelah hujan reda kami pulang, kembali berjalan kaki untuk menuju jalan raya. Aku harus naik angkot lagi kawan, jalur yang dilalui pun berkelok-kelok menuju daerah Matur. Isi perutku seperti ingin keluar rasanya, kepalaku pusing sangat kawan. Tapi itu hanya sesaat, dan akhirnya sampai dirumah persinggahan kami. Disana dingin sangat, ingin langsung tidur dan berselimut rasanya.

Keesokan harinya kami putuskan aku dan Hilman akan menjemut Arul dan Ari, Ade tetap tinggal dirumah agar menghemat ongkos katanya. Aku dan Hilman sudah tahu jalan yang akan kami tuju. Jadi Ade tak ikut juga tak apalah. Kali ini kami hanya berharap keberuntungan ada bersama kami, karena kami tak bisa lagi menelepon Ari. Pulsa handphone ku habis karena ibuku menelepon dan sialnya kena roaming kawan. Sebenarnya aku tahu alasan Ade tak ikut, karena malas. Piakak (picik) sekali kawanku satu itu. Haha..

Aku dan Hilman akhirnya bertemu juga dengan Arul dan Ari, dan kami berempat bersama-sama pulang. Banyak yang harus direncanakan. Sesampainya dirumah kami berlima berkumpul, bercanda dan merencanakan untuk melanjutkan perjalanan kekota padang. Karena tujuanku yang sebenarnya belum tercapai. Ada cerita menarik disela-sela kami berkumpul, kami berlima membantu salah satu saudara Ade untuk memetik cabai dikebun yang ada dibelakang rumah. Luas sekali kebunnya, cabainya merah segar. Lelah membantu, perut pun keroncongan. Tuan rumah pun menyajikan makanan ala kadarnya. Semangkuk sambal ayam ala padang sebagai lauk dan nasi tentunya didepan mata kami. Dengan napsu yang menggebu-gebu Arul pun bertindak kesetanan. Banyak sangat sambal yang diambilnya. Hanya beberapa sendok setelah Arul menyantap makanannya, lidahnya seperti terbakar. Jari-jari tangannya menggaruk-garuk kepala. Mulutnya seperti naga yang ingin menyemburkan api. Dan dia pun langsung mengibarkan bendera putih tak ingin melahap makanan itu lagi. Banyak sek

ali yang tersisa dipiringnya. Memang pedas sangat sambal itu kurasakan kawan. Tak pernah kurasa pedas seperti itu.

“Haha… syukur kau rul. Makanya jangan maruk!!” kataku

Sehari telah terlewati, akhirnya kami berlima memutuskan untuk berpamitan dengan tuan rumah. Kami akan menuju kota padang. Disana kami akan menginap dirumah saudara Ari. Rumah saudara Ari itu berdekatan dengan jembatan siti nurbaya, berdekatan pula dengan pantai. Jadi kami bisa bermain-main disana, mengabadikannya lewat sebuah gambar.

Tapi sebelum berangkat ke kota padang kami mengunjungi jam gadang terlebih dahulu, berfoto disana. Lalu kami melihat-lihat isi goa jepang nan gelap. Setelah puas barulah kami berangkat kekota padang.

Setelah beberapa jam diatas bus akhirnya sampailah kami dikota padang, dan langsung saja menuju rumah persinggahan kami. Cukup nyaman di rumah saudara Ari itu, tapi ada satu hal yang membuat kami sangat tak nyaman kawan. Ya ampun, MCK (mandi cuci kakus)nya kawan kotor sangat. Lantainya licin, semen yang ada telah tertutup oleh ampas santan yang tebal sangat. Lumut didindingnya. Baunya menyengat, bau santan basi kawan. Bau kotoran saat kami BAB pun mungkin bisa kalah dengan bau santan itu kawan. Yuck,, menjijikkan. Tapi apa boleh buat, selama kami berada disana setidaknya minimal 2 kali sehari kami harus mengujungi kamar mandi tersebut. Haha..

Dan satu lagi yang membuat tak nyaman, salah seorang dari keluarga Ari yang kami sebut dengan panggilan Uda (sebutan saudara laki-laki dalam bahasa padang) belum kembali selama beberapa hari dari pekerjaannya sebagai nelayan. Uda menghilang ditengah laut yang ganas, hal itu membuat kami sedikit takut akan roh uda yang akan masuk kedalam mimpi kami disaat kami tidur nanti. Seperti anak kecil memang, persis juga mirip orang dulu yang percaya dengan mitos. Tapi itulah yang kami rasakan, memilih untuk tak tidur daripada bermimpi melihat wajah uda. Hahaha….

Hohoho,, saatnya kami bermain dipantai. Dengan senyum lebar kami bercanda di deburan ombak. Tiba-tiba Arul melihat seorang gadis yang bermein air sendirian.

“wuy, kenalan ama cewek itu yuk!!’ kata Arul

Kontan Hilman yang mata keranjang menyetujui gagasan keturunan India itu. Berkenalanlah mereka berdua dengan gadis itu, sedangkan aku, Ade dan Ari tetap bersama dan tak ikut merayu gadis itu. Haha..

Sesaat Arul dan Hilman berbincang ,gadis itu pun berkata.

“ aku tinggal dihotel loh, mau main ke hotelku gak??”

Haha.. tampang Arul dan Hilman sumringah, seperti ada 2 tanduk yang tumbuh diatas kepala mereka. Tak tahulah aku apa yang ada dipikiran mereka. Tapi entah kenapa mereka menolak tawaran gadis itu. Dan mereka berdua kembali bersama kami.

Tiba-tiba seorang penjaga pantai berteriak “hey, jangan berenang terlalu jauh!!”

Dia meneriaki gadis yang berkenalan dengan Arul dan Hilman tadi.

Gadis itu menjawab “ biarin, biar saja aku mati!!”

Haaa,, kami kaget mendengarnya. Usut punya usut, ternyata gadis itu stress kawan, gila, sakit jiwa tepatnya. Hal itu kami ketahui dari sang penjaga pantai. Hahaha.. Arul dan Hilman berkenalan dengan orang gila. Syukurin!!!

Sembari Ade, Arul dan Hilman bermain dipantai aku mengajak Ari ke universitas Bung hatta untuk mencari informasi. Karena itulah tujuanku sebenarnya kekota ini. hanya sebentar kami ke kampus tersebut, telah banyak yang aku ketahui tentang universitas tersebut dan seluruh informasi yang aku dapat akan menjadi laporanku kepada kedua orang tuaku.

Malam harinya kami berjalan-jalan di jembatan siti nurbaya, ramai sekali dijembatan itu kawan. Bermacam makanan dijajakan disana. Arul ingin sekali makan pisang kepit (makanan khas Sumatra barat). Tapi uang kami tak banyak lagi, disinilah persahabatan kami diuji oleh keegoisan masing-masing. Ade yang tak setuju dengan gagasan Arul dan sisanya pro dengan Arul. Tapi, Uang yang tinggal sedikit tak memungkinkan untuk membeli makanan itu satu porsi perorang. Keputusan pun diambil, satu porsi pisang kepit untuk berlima. Haha.. kebersamaan yang tak terharga nilainya dan tak bisa dibeli oleh siapapun. Nikmat sekali pisang kepit itu, disantap bersama dibawah rintikan hujan.

Sudah satu minggu kami dikota ini, tujuanku telah tercapai. Batin temanku pun telah terpuaskan dengan liburan disini. Saatnya kami kembali ke pangkuan orang tua di kota (Jambi) tercinta. Sisa uang yang ada tak memungkinkan untuk membawa oleh-oleh ikut pulang kerumah. Hal itu membawa perdebatan diantara kami berlima. Beberapa ingin pulang dengan bus ekonomi dan tetap membeli oleh-oleh untuk keluarga dirumah. Sebagian lagi ingin naik bus ber AC walaupun tanpa buah tangan, yang penting nyaman diperjalanan. Uangku sebenarnya cukup untuk ongkos dengan bus ber AC dan membeli oleh-oleh. Tapi salah satu teman kami yang tadinya kami menaruh harapan padanya karena kami anggap dia mampu ternyata nihil. Uang untuk bus ekonomi saja dia tak punya. Terpaksa uangku yang menjadi korban, tak apalah aku tak ingin bertengkar gara-gara perkara ini.

Perdebatan berakhir dengan keinginan untuk naik bus ber AC. Beruntung memang, Ari dibekali buah tangan oleh keluarganya. Banyak sekali oleh-oleh yang dibawa berupa keripik keras. Serta sarapan berupa kue serabi yang nikmat sangat kawan, ternyata kue inilah yang menyebabkan kamar mandi rumah itu penuh santan basi kawan. Kami pikir di Jambi Ari akan membagikan beberapa keripiik kerasnya untuk kami bawa pulang kerumah masing-masing. Haha.. berharap.

Saatnya pulang, kami memutuskan tak ingin menggunakan jasa family raya lagi, takut kejadian disaat berangkat terjadi lagi. Kali ini kami menggunakan jasa JATRA (Jambi transport). Disaat yang bersamaan tim ekspedisi yang mendaki gunung singgalang bersama Arul dan Ari juga berangkat pulang ke Jambi. Dan mereka menggunakan bus Family Raya yang kami gunakan saat berangkat kekota ini. beberapa jam bus berjalan akhirnya bus kami berpapasan dengan bus tim ekspedisi tersebut, benar saja kawan bus family raya itu mogok lagi. Untung saja kami tak naik bus itu lagi pikirku. Hahaha..

Bus pun berhenti untuk beristirahat, disebuah warung didekat tempat peristirahatan ada penjual oleh-oleh. Dengan sisa uangku aku pun berinisiatif membeli beberapa bungkus keripik sanjay (keripik balado) untuk oleh-oleh. Secara diam-diam aku memberikan satu bungkus untuk Ade, bukan bermaksud berpilih kasih tapi aku anggap dialah yang labih pantas aku berikan makanan itu untuk keluarganya. Bus pun kembali berjalan dari peristirahatan, selama 12 jam kami lalui dan akhirnya sampai dikota kecil nan bikin kangen itu. Turun dari bus tanpa malu-malu Arul meminta sedikit oleh-olehnya untuk kami. Tapi dengan muka ditekuk dan sedikit merengut Ari tak mau membagikan keripik kerasnya. Hanya untuk keluarganya dia beralasan. Kembali persahabatan kami diuji kawan,keegoisan masing-masing tak bisa diredam. Tapi sudahlah, biar saja Ari tak mau berbagi yang penting aku juga sudah membawa beberapa bungkus oleh-oleh pikirku picik. Kami berpisah menuju rumah masing-masing. Ade menunggu jemputan, Ari naek angkutan umum sendiri, sedang aku, Arul dan Hilman naek angkutan umum bersamaan karena rumah kami satu arah.

Itulah akhir perjalanan panjang ini, aku semakin tahu sifat masing-masing temanku. Membuatku rindu dengan teman-temanku itu. Berpikir akan kembali melakukan perjalanan panjang dan tidak menggunakan jasa Family Raya tentunya. Hahaha..

Bye…

Rabu, 08 April 2009

SENANDUNG LAGU HUJAN

Untuk merayakan hari jadi temanku, aku bersama teman-temanku berencana camping (berkemah) di hutan buluran. Perencanaan telah matang, alat-alat camping dan makanan-makanan siap saji telah dipersiapkan. Tak banyak yang akan ikut dengan kegiatan kami ini. Hanya sekitar 10 orang yang akan berpesta ala anak alam. Mereka adalah Mazharul haq (Arul), Arif wibowo (Arif), Budi setiawan (Budi/pak de), Riko midaya (Riko), Randy hidayatullah (Randy), Rocky, Suwandy (Wandy), Vertikal lature (Veri) serta aku dan Ade yang berulang tahun. Telah 18 tahun Ade ada di bumi.

Hutan buluran adalah satu tempat favorit kami untuk berkemah, biasanya satu bulan sekali di hari sabtu dan minggu kami selalu berkunjung dan bermalam di hutan ini. Lokasi yang kami pilih tak terlalu jauh dari pemukiman warga. Agar mudah meminta pertolongan jika terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Sekitar 100 meter dari belakang rumah Ketua RT kampung itu kami memilih lokasi tenda akan ditegakkan. Namun kami harus menyebrangi sebuah sungai kecil agar dapat mencapai lokasi. Orang-orang dan beberapa pecinta alam menyebut sungai ini dengan nama sungai kehidupan kawan.

Sore hari kami telah berkumpul di lokasi, pembagian tugas pun telah ditetapkan. Sebagian mendirikan tenda, sebagian lagi mencari kayu bakar untuk menyalakan api unggun malam harinya. Sekeliling tenda kami tebar garam agar hewan berbisa seperti ular enggan melewatinya. Malam ini menjadi milik kami sepenuhnya, tak boleh ada makhluk lain yang ikut bergabung dengan acara kami. Kami raja di lokasi ini untuk 24 jam kedepan. Haha..

Hari berangsur gelap, lampu badai (lampu teplok) mulai kami nyalakan setidaknya sedikit menerangi tenda-tenda kami. Peralatan memasak pun kami keluarkan dari carriel (tas ransel ukuran besar), bersiap membuat penganan pengisi perut dan minuman penghangat tubuh. Beberapa gelas teh hangat lumayan menetralkan udara malam yang semakin dingin menghujam badan. Petikkan gitar dari jari-jari yang mahir memainkannya terdengar memanja telinga, dan memacu hati untuk ikut bernyanyi dalam alunan suara gitar itu kawan.

Hmmm, malam semakin larut, udara pun semakin dingin. Tapi api unggun belum saatnya untuk dinyalakan. Kami akan menyalakan api unggun tepat tengah malam. Saat itulah kami anggap puncak dari berkemah sebenarnya. Badan yang bergetar karena lapar membuat kami mencoba memasak sesuatu. Indomie sudah pasti kawan, dan menanak nasi yang lebih mirip bubur saat sudah matang. Haha..

Tapi lumayanlah daripada cacing diperut terus berontak kawan.

Tepat tengah malam ritual pembakaran api unggun dimulai, kayu-kayu yang telah dipersiapkankan ditumpuk sedemikian rupa agar menghasilkan api yang besar. Tak lupa dibawah tumpukkan api itu kami letakkan ban bekas yang kami ambil di tempat pembuangan ban bekas kawan. Ban itu akan membuat api menyala sedikit lebih lama menurut kami. Tapi imbasnya seluruh benda yang terkena asapnya akan menjadi hitam, termasuk badan kami. Haha..

Api pun telah dinyalakan, kami mengelilingi api itu. Entah apa yang kami lakukan, seperti memuja api saja. Bernyanyi-nyanyi tanpa rasa malu. Yang ada dipikiran kami hanya bersenang-senang dan bersenang-senang. Tak pedulikan orang lain jika mereka tahu yang kami lakukan. Mengambil foto ditengah cahaya api yang besar, bercanda, tertawa seperti orang gila. Aku saja malu dengan kelakuanku itu. Haha..

Bodohnya lagi aku dan teman-temanku mengikuti ajakan Riko untuk berfoto dengan hanya menggunakan kancut (celana dalam). Seperti tak punya rasa malu kami bergaya dengan celana segitiga itu. Haha..

Dengan warna berbeda dari masing-masing kancut kami, bermacam gaya pula yang dipakai untuk diabadikan dalam sebuah gambar. Kancutku berwarna abu-abu kawan, Ade pun sama denganku. Wandy, Arif dan Budi menggunakan warna putih. Hijau yang dipakai Riko dan Rocky. Yang aneh hanya Arul, dia menggunakan warna pink (merah jambu). Haha.. mungkin Arul sakit kali ya. Ragu aku dengan kejantanannya. Yang lebih parah lagi si Randy kawan, dia tak pakai kancut. Kancutnya basah saat menyebrangi sungai dan itu kancut satu-satunya. Haha.. tapi dengan pedenya Randy ikut berfoto bersama. Halah,, kelihatan P*N*S si Randy kawan. Haha.. Kami lebih mirip pasukan berkancut daripada anak pecinta alam.

Malam semakin larut, mata tak kuat lagi menahan rasa kantuk. Secangkir kopi pun tak mampu melawan keinginan untuk bermimpi. Hanya beberapa orang yang tersisa untuk berjaga-jaga termasuk aku, yang lainnya sudah dialam bawah sadar. Budi pun mengambil gitar, aku tahu dia tak bisa memainkan alat melodies itu. Dengan suara fals dan petikkan yang semrawut pak de pun besenandung.

“jalan hidupku masih panjang” bait 1

“kami memang pengamen jalanan” bait 2

Masih banyak lagi lirik-lirik tak jelas keluar dari mulutnya, menurutnya itu lagu ciptaannya sendiri. Halah,, lebih mirip jampi-jampian pemanggil hujan menurutku. Benar saja kawan, tak lama setelah budi melantunkan lagunya terdengar suara bergemuruh. Dari kejauhan terdengar air berjatuhan menuju tenda kami. Hujan kawan, lebat sangat hujannya. Kontan, semua yang tertidur didalam tenda terbangun, tenda kami tak tahan hujan kawan. Harus dilapisi terpal diatasnya agar air hujan tak tembus. Tanpa pikir panjang, terpal yang lumayan besar untuk kami duduk diangkat keatas tenda. Tapi semua sudah terlambat, semuanya sudah basah. Semakin dingin kawan. Bibir kami bergetar dibuatnya. Akibat hujan yang lebat itu kami tak tidur hingga fajar menjelang.

Pagi pun tiba, suhu tubuh kami kembali normal karena diterpa sinar matahari. Aku dan teman-teman membersihkan badan yang sudah sangat lusuh di sungai tepat didepan tenda kami. Lalu bersiap-siap pulang kerumah. Kembali merasakan empuknya kasur kamar kami dan bertemu teman-teman lain disekolah.

Nanti apabila foto-foto kami telah dicetak akan kupajang di mading sekolah pikirku, biar semua teman-temanku yang ikut berkemah merasakan malu yang tak tertahankan, walaupun aku juga akan merasakan hal yang sama. Hahaha….

Bye..

Selasa, 03 Februari 2009

KITA DI PEKANBARU KAWAN!!!

Berawal dari keinginanku dan tiga orang temanku Mazharul haq (arul), Rico midaya (rico), dan Suwandi (wandi) untuk menonton sebuah pagelaran live music yang katanya terbesar di negri ini. Yup,, kami ingin menonton SOUNDRENALIN "ROCK UNITED" kawan. Rencana ini timbul karena kami melihat sebuah banner yang terpampang kokoh di persimpangan jalan didaerah jelutung, kota jambi. "Wow, lihat itu kawan!!! ada nidji" ujar rico. saat itu nidji sedang boming sangat kawan. Rico dan Wandi sangat menyukai hits2 mereka. Sedangkan aku hanya melihat satu nama band yang tak begitu terkenal seperti NIDJI, PETERPAN, ataupun SLANK. Tapi band yang satu inilah yang membuatku keras hati ingin menginjakkan kaki di LANUD PEKANBARU. mereka menyebutnya dengan nama THE SUPERGLAD, dan satu lagu "suara hati" sudah cukup untuk memuaskanku apabila aku bisa berada disana. Selain itu aku tak punya tujuan lain. Hmm,, bagaimana dengan tujuan Arul?? apa yang ia cari disana?? ahh, setahuku dia tak begitu mengenal music. dan tujuannya ikut perjalanan ini ya cuma sekedar ikut doank, yang penting happy mungkin pikirnya.
Tanpa pikir panjang ala anak muda kami pun bersiap untuk berangkat. tapi, tunggu dulu.aku kan tidak punya uang banyak saat itu, bagaimana dengan ongkos PP BUS, makan selama disana? dan kami berempat pun sebenarnya sedang menjalani tugas sebagai panitia acara reuni SMU kami. Masih banyak sekali yang harus dipersiapkan untuk acara itu, dan hari H hanya tinggal 2 minggu. hohoho,,, walaupun aku tidak punya uang saat itu tapi akulah bendahara acara reuni SMU itu. 1 juta rupiah ada ditanganku, kami rasa itu cukup untuk kami berempat. sekali lagi ala anak muda kawan, NEKAT lebih spesifiknya. yang penting tujuan tercapai dulu, urusan reuni belakangan.
jam 7 malam kami berkumpul di PUJASERA jelutung, padahal seharusnya kami berencana berangkat jam 4 sore. terlambat, semua gara2 arul yang ingin bergaya total yang aku juga tak apa jenis gaya yang dipakainya. halah,, rambutnya seperti diukir kawan, dicat merah pula. anjrit, udah mirip Jibril cisse itu orang. terbahak-bahak aku saat pertama kali melihat gayanya. tapi aku salut dengan kepedeannya, dua ibu jari buat temanku yang satu itu. saatnya berangkat kawan,, dan kami harus berterima kasih kepada seorang teman yang bersedia mengantar kami dengan KATANAnya ke tempat pemberhentian bus di daerah aurduri. kami tidak naik bus diterminal kawan, tapi kami langsung memberhentikan bus yang menuju kepekanbaru langsung ditengah jalan. naik bus nembak biasa kami menyebutnya, kami lakukan karena harga bus nembak sangat miring. dan bila beruntung kami bisa duduk dikursi seperti biasa. tapi jika tidak, berdirilah selama 8 jam perjalanan.
setelah beberapa jam menunggu, tak satupun bus yang tarifnya sesuai dengan kantong kami. sampai pada akhirnya ada satu bus yang menawarkan harga 30000 perorang, deal langsung naik. Anjrit, cuma 3 kursi yang kosong. dengan sukarela aku tak duduk dikursi tapi duduk ditumpukkan barang yang lumayan besar dan banyak bahkan tempat untuk berdiri pun tak tersedia untukku. okelah, tak apa yang penting sampai pikirku dan temanku. untungnya aku bisa merebahkan tubuhku ditumpukkan barang-barang itu, lumayan nyaman untuk ukuran uang 30000.
aku terlelap dalam beberapa jam perjalanan, lalu tiba-tiba terbangun oleh bau yang menyengat hidungku dan seluruh penumpang bus. ternyata sebuah truk pengangkut karet berada tepat didepan bus kami. mungkin karet-karet tersebutlah yang menyebabkan timbulnya bau tersebut. tanpa pikir panjang sopir bus pun memperlambat laju kendaraannya agar turk karet menjauh dari bus kami. selang beberapa menit truk karet tersebut telah hilang dari pandangan kami, tapi bau busuknya belum hilang juga. anjrit,, bau sangat kawan menyengat hidung. tak tahan rasanya aku untuk bernapas bebas. walaupun jendela bus terbuka sangat lebar tetap saja bau busuk itu lebih ketara. Tiba-tiba ada seorang penumpang bus yang berkata " pak sopir, ada yang B*R*K di bus sepertinya". haaaa,, aku dan teman-temanku terkejut mendengar pernyataan itu. dan kontan sopir bus menghentikan sejenak perjalanan kami untuk memeriksanya.semua penumpang pun diminta turun sebentar. Anjrit,, benar saja kawan ada seorang lelaki tua yang kami beri sebutan MBAH buang air besar dicelananya. ada kotoran manusia di bus yang kami tumpangi kawan, yuckk menjijikkan. Gila itu si mbah, bikin napsu makanku hilang gara-gara perbuatannya. kami berempat berkumpul menggerutu dengan perbuatan si mbah. dengan guyonannya arul berkata " kita lempar saja si mbah dari jendela bus".
hahaha,,,,
ingin pulang rasanya ketika melihat kejadian itu, tapi tak ada pilihan lain kami harus tetap melanjutkan perjalanan dengan bus yang lebih mirip toilet berjalan menurutku. masih ada 8 jam perjalanan lagi untuk sampai dikota pekanbaru. dan sepanjang waktu itu sebelah tanganku menutupi hidungku.
sudah pukul 8 pagi, tapi kami baru sampai di daserah pangkalan kerinci sekitar 2 jam lagi ke kota pekanbaru. ahh sial,, padahal acaranya dimulai jam 10. lagi-lagi terlambat, tapi kali ini dikarenakan jalan bus yang seperti odong-odong. pelan sangat jalan busnya, bahkan mungkin bisa dikejar oleh odong-odong. mungkinkah kami sampai disana tepat pada waktunya. tak selang berapa lama kami berhenti di salah satu pool bus yang kami tumpangi, kata sopirnya mau istirahat dulu. Anjrit,, makin lama donk nyampe ke pekanbaru. Okelah, akhirnya aku dan teman-teman memutuskan menggunakan waktu ini untuk makan disebuah warung didekat pool.
Makanan didepan meja telah habis kami lahap, waktu terus berjalan namun bus belum juga menunjukkan tanda-tanda akan melanjutkan perjalanan. Sampai pada akhirnya salah satu dari kondektur bus berkata “ mas, bus sampai sini aja. Kalau mau lanjut kekota naik angkot aja ya!!!” aihh,, gila aku harus nyambung naik angkot yang disewa oleh pengelola bus menuju pekanbaru. Apa mungkin kami bisa sampai disana tepat waktu. THE SUPERGLAD masalahnya kawan, klo violet band atau simpson band sih gak masalah aku telat 10 jam juga. Tanpa menunggu lama kami naek kekendaraan umum nan kecil itu, kepalaku pusing setiap kali aku naek angkot terlalu lama. Dipikirku demi tujuan awal apa sih yang nggak.
2 jam perjalanan terlewati, sampailah kami di kota pekanbaru dan lagi-lagi kami hanya diturunkan di pool bus yang kami naiki tadi. Hahaha,,, Kita di PEKANBARU kawan!!!setelah turun dari kendaraan yang membuat diriku ingin berkata “kapal miring kapten!!!” tersebut temanku Arul langsung bertanya pada seseorang yang berada didekat kami
“ pak, kalau mau ke LANUD gimana ya??”.
Orang itu menjawab “oh,, adik harus kepasar pusat dulu naek angkot, ntar lanjut naek bus”.
Langsung saja kami naek angkot menuju pasar pusat tersebut. Selang beberapa menit dengan gaya sok tahunya rico bertanya pada sang sopir angkot “ pak, kalau mau ke jakarta pusat kemana ya??” what!! jakarta pusat?? gak salah si Rico ngomong. Kita di pekanbaru kawan!!! bukan di IBUKOTA negara. Kontan aku, Arul dan Wandi terbahak-bahak mendengar pertanyaan riko tersebut. Malu sendiri itu orang atas ke sok tahuannya.
Setelah sampai di pasar pusat, kami bertanya lagi pada seseorang yang kami temui di salah satu toko penjual kaset. “mbak, kalau mau ke lanud kemana ya??”
penjaga toko menjawab “ ouw, mau nonton soundrenalin ya?? waduh mas, salah. Harusnya berbalik arah!!!” anjrit,, kita nyasar kawan. Naas sekali nasib kami, padahal sudah jam 12.
penjaga toko kembali berkata “ mas naek bus lagi aja (lupa bus tujuan mana )!!! natar tanya ama kondekturnya turun dimana”
ya sudahlah, kami ikuti saja saran mbak tadi. Naek bus yang kami sendiri tak tahu tujuannya.
Sekitar 15 menit niatas bus arul pun berinisiatif untuk bertanya ke kondektur “ bang, kalau mau ke lanud turun diamna??”
kondektur menjawab “ oh, turun didepan aja mas”.
Bus pun berhenti, tapi kami tak melihat ada tanda-tanda kebisingan seperti live musik disekitar daerah tersebut. Anjrit,, sudah jam 12.30 kawan. Telat 2 jam 30 menit kita. ternyata, kami harus berjalan lagi menuju LANUD. tak terlalu jauh, tapi lumayan membaut kaki kami bergetar. sudah jam 12.45, kami belun juga mendapati dimana lanud berada. sampai pada akhirnya sebuah taksi menghampriri kami, sopir berntanya "mau kemana mas??" aku menjawab "mau kelanud pak". "naik taksi aja, masih jauh". aih,, gila masih jauh ternyata kawan. ya sudahlah, kami putuskan menyewa taksi tersebut. hanya sekitar 15 menit kami akhirnya sampai di tempat pagelaran music tersebut, alhamdullilah. tapi daerah itu dijaga ketat oleh TNI, hanya mobil tertentu yang boleh masuk ke area LANUD. seorang pria berseragam loreng pun akhirnya memberhentikan taksi kami dan berkata "maaf pak, taksi cuma boleh sampai disini". tiba-tiba riko berbicara pada pria tegap tersebut " kami dari panitia pak". aih,, tolol itu orang ngaku-ngaku panitia. tapi entah mengapa pria tersebut lebih tolol dari riko menurutku, dia percaya dengan perkataan riko. anjrit,, riko tak tahu kali ya bahwa jantungku bergetar panik karena perbuatannya.
dengan mulus kami masuk ke area lanud tanpa ada halangan, taksi pun telah kami bayar. saatnya masuk menyaksikan THE SUPERGLAD. tiket 35000 tak masalah. tapi yang jadi masalah adalah ???
aih gila, anjrit, kimping (omongan kotor ala anak jambi). THE SUPERGLAD udah maen dari tadi kawan, aku tak sempat melihat performnya. kami sudah terlambat 2 jam, dan mereka sudah naek panggung sejam yang lewat. Kecewa yang aku rasa, setelah semua yang aku lewati dalam perjalanan dan aku tak mendapatkan imbalan yang setimpal. masih sekitar 10 jam menyaksikan band-band yang perform di acara tersebut, masih banyak band-band keren yang seharusnya aku nikmati aksinya. dan semua itu tak mau aku sia-siakan lagi. selama 10 jam aku dihibur dengan kebisingan yang tersedia di tiga panggung. sampai pada akhirnya di acara puncak sebuah band yang dianggap legend oleh masyarakat negeri ini pun tampil. SLANK, mulai menhajar gendang telinga sekitar 70ribu orang yang ada diarea tersebut lewat musik-musik mereka. setidaknya aku terhibur dengan semua yang disajikan oleh acara tersebut, perlahan melupakan kekecewaan karena tak sempat melihat Buluk dkk. tapi yang lebih membuatku terhibur lagi adalah perbuatan manusia di negri penuh hutang ini yang membakar-bakar uangnya lewat percikan api yang sangat indah. sekitar 30 menit angkasa lanud dipenuhi cahaya kembang api kawan!!! fantastic...
semua telah usai, saatnya kembali kerumah masing-masing. tapi kami harus melewati 12 jam lagi di atas bus, dengan perasaan gembira dan membawa kenangan kami melangkah menuju kota tercinta JAMBI. dan di dalam benakku aku pun berdoa "semoga di bus nanti tak ada si mbah lagi" hahaha.....
bye...

Rabu, 07 Januari 2009

Sadarkan Ikhwan

Aku merasa bukan seorang sahabat yang baik. disaat seorang temanku tenggelam dalam masa lalu yang membuatnya runtuh bak gedung yang dihantam sebuah boing 737 aku tak bisa berbuat apa2.

Ikhwan, seorang teman yang dahulu selalu bisa lepas dari berbagai masalah kini hanya seperti mayat hidup yang selalu menutupi kesedihannya dengan sebuah senyum. Aku tahu bagaimana pedih rasanya ditinggal seorang kekasih yang sangat dicintai. laila pernah sangat menyayangi ikhwan. seperti pasangan abadi yang tak mungkin terpisahkan lagi mereka menjalani hari2nya sejak SMA hingga semester 2 laila kuliah.

Setelah aku lu2s SMA dan melanjutkan kuliah disebuah perguruan tinggi swasta di kota depok, aku tidak tahu lagi bagaimana hubungan mereka. hingga pada suatu ketika seorang temanku desta mengirimkan sebuah pesan yang mengabarkan bahwa laila akan menikah. bukan dengan ikhwan ia akan mengikat janji hidup bersama melainkan dengan orang lain yang Aku tidak kenal. kontan, kabar tersebut mengagetkanku. Aku ingin sekali bertanya pada ikhwan apa yang membuat semua ini terjadi, tapi aku tahu bahwa sangat tidak tepat bertanya kepadanya disaat kondisinya sedang hancur seperti itu.

Aku coba bertanya pada seorang temanku yang lain mengenai apa yang sebenarnya terjadi, ternyata suatu perjodohanlah yang membuat mereka harus berpisah. mungkin aku bisa mengerti mengapa laila memilih jalan tersebut. tak yang tak aku habis pikir mengapa sepertinya laila tak ada sedikit usaha pun untuk menolak kemauan orang tuanya tersebut. seakan akan ikhwan sangat tak berharga dibandingkan dengan pria yang dijodohkan padanya. padahal tadinya aku pikir laila sangat mencintai ikhwan, dan akan mempertahankan hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius.

Naas memang nasib ikhwan, mencoba menjalani suatu cobaan yang lumayan berat bagi seorang pria muda yang masih tidak stabil emosinya.

mengutip lirik lagu dari monkey to millionaire 'mereka yang kita sayangi yang paling mampu melukai'. hal seperti itulah yang pernah dialami ikhwan. sakit memang, tapi aku tahu bahwa ikhwan bisa lepas dari iblis masa lalu yang menghantuinya selama ini. bukannya hanya mengenang dan berkata 'aku tak bisa melupakannya'.

entahlah apa yang terjadi pada temanku yang satu itu. mungkin otaknya sudah kres karena terlalu banyak kenangan yang menurutnya indah bersama laila. dan mungkin dia tak mampu lagi berfikir logis bahwa sebenarnya diluar sana masih tersedia jutaan kasih sayang untuknya.

tak banyak yang bisa kuperbuat untuk membantunya keluar dari penderitannya itu. tapi setidaknya aku bisa membisikkan padanya 'sudah, sudahlah kawan!! sadarlah!! lupakanlah dia, carilah wanita lain!! sapa tau ada yang cocok.'

bye..