Papalasix Edelweis
Pour Your Imagination
Minggu, 24 Maret 2013
Kamis, 02 Juli 2009
PERTEMUAN DIKAKI SINGGALANG
Gembira dan sedih itulah perasaan yang aku rasakan kawan. Gembira, karena aku dan ratusan anak-anak kelas 3 di SMU ku telah menerima kelulusan setelah menjalani pendidikan selama 3 tahun di bangku sekolah. Sedih, karena ada sekitar 7 siswa yang tidak lulus. Mereka harus melakukan ujian ulang dan salah satu dari 7 siswa tersebut adalah teman sebangku, teman bermain bahkan dia saudaraku di Papalasix Edelweis (organisasi pecinta alam SMUN 6 Jambi). Tak perlulah aku sebutkan namanya kawan, mungkin dia juga tak ingin namanya disebutkan.
Aku harus melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, dan aku tak ingin meneruskan sekolahku dikota (Jambi) ini lagi. Aku ingin melanjutkannya di
Setelah berbicara dengan kedua orangtuaku, akhirnya mereka mengijinkanku kekota
Disaat yang bersamaan 4 orang temanku Ade dwi syahputra (Ade), Mazharul haq (Arul), Hilman dinata (Hilman), dan Ariyandi (Ari) berencana akan liburan kekota padang juga. Namun Arul dan Ari akan melakukan ekspedisi pendakian gunung singgalang,di daerah Bukit Tinggi jadi kami tak bisa berangkat bersamaan. Mereka berdua harus berangkat lebih dahulu, karena seluruh anggota tim ekspedisi (SMU N 1 Jambi) tersebut sudah menunggu mereka. Tak apalah, aku, Ade dan Hilman akan berangkat sehari setelah Arul dan Ari. Dan kami bertiga berjanji bertemu dengan Arul dan Ari di kaki gunung singgalang.
Tak ragu lagi aku, ade dan hilman akan berangkat. Tiket pun telah dibeli. Kami bertiga menggunakan jasa bus family raya. Disaat kami akan memulai perjalanan mungkin Arul dan Ari telah berada di
Setelah kejadian yang menguras tenaga itu perjalanan berlangsung lancar. Kami pun tiba tepat pada waktunya, sekitar pukul 3 pagi kami telah sampai didaerah bukit tinggi. Namun untuk mencapai kaki gunung singgalang membutuhkan waktu 2 jam dengan berjalan kaki. Jalanan didepan kami masih gelap kawan, hal itu membuat jantung kami bergetar takut dan berpikir ulang untuk terus berjalan menuju tempat pertemuan. Akhirnya kami memutuskan untuk berhenti sejenak menunggu matahari terbit dan beristirahat di sebuah mesjid.
“kita sholat subuh dulu yuk kawan!!” ujar Ade mengajak.
Wow, air untuk mengambil wudhu dingin sangat kawan. Seperti es yang baru dikeluarkan dari freezer. Aku tak tahan dengan dinginnya, itulah alasan agar aku tak sholat selain karena malas. Haha…
Setelah Ade dan Hilman sholat dan fajar pun telah tiba kami kembali melanjutkan perjalanan kawan. Kami tak tau arah menuju kaki gunung tersebut, satu-satunya cara agar sampai kesana adalah dengan bertanya dengan penduduk sekitar. Beberapa jam berjalan kami belum juga tiba, lelah sangat kawan. Tapi pemandangan disekitar kami sangat menarik. Tepat didepan kami berdiri kokoh gunung Merapi
Napas kami sudah sesak, tenggorokan pun telah kering. Namun belum juga kami melihat ujung dari perjalanan ini.
“pak kalau mau ke pemancar masih jauh ya pak?”
“sedikit lagi koq, ikuti saja jalan ini!!” Pria itu menjawab.
Haha.. senyum pun kembali terpancar dimuka kami. Seperti ada seberkas sinar harapan terpancar didepan
Akhirnya kami sampai di tempat pertemuan, tapi Arul dan Ari tak ada di tempat. Apa mungkin mereka belum turun dari puncak
Setelah hujan reda kami pulang, kembali berjalan kaki untuk menuju jalan raya. Aku harus naik angkot lagi kawan, jalur yang dilalui pun berkelok-kelok menuju daerah Matur. Isi perutku seperti ingin keluar rasanya, kepalaku pusing sangat kawan. Tapi itu hanya sesaat, dan akhirnya sampai dirumah persinggahan kami. Disana dingin sangat, ingin langsung tidur dan berselimut rasanya.
Keesokan harinya kami putuskan aku dan Hilman akan menjemut Arul dan Ari, Ade tetap tinggal dirumah agar menghemat ongkos katanya. Aku dan Hilman sudah tahu jalan yang akan kami tuju. Jadi Ade tak ikut juga tak apalah. Kali ini kami hanya berharap keberuntungan ada bersama kami, karena kami tak bisa lagi menelepon Ari. Pulsa handphone ku habis karena ibuku menelepon dan sialnya kena roaming kawan. Sebenarnya aku tahu alasan Ade tak ikut, karena malas. Piakak (picik) sekali kawanku satu itu. Haha..
Aku dan Hilman akhirnya bertemu juga dengan Arul dan Ari, dan kami berempat bersama-sama pulang. Banyak yang harus direncanakan. Sesampainya dirumah kami berlima berkumpul, bercanda dan merencanakan untuk melanjutkan perjalanan kekota
ali yang tersisa dipiringnya. Memang pedas sangat sambal itu kurasakan kawan. Tak pernah kurasa pedas seperti itu.
“Haha… syukur kau rul. Makanya jangan maruk!!” kataku
Sehari telah terlewati, akhirnya kami berlima memutuskan untuk berpamitan dengan tuan rumah. Kami akan menuju
Tapi sebelum berangkat ke
Setelah beberapa jam diatas bus akhirnya sampailah kami dikota
Dan satu lagi yang membuat tak nyaman, salah seorang dari keluarga Ari yang kami sebut dengan panggilan Uda (sebutan saudara laki-laki dalam bahasa
Hohoho,, saatnya kami bermain dipantai. Dengan senyum lebar kami bercanda di deburan ombak. Tiba-tiba Arul melihat seorang gadis yang bermein air sendirian.
“wuy, kenalan ama cewek itu yuk!!’ kata Arul
Kontan Hilman yang mata keranjang menyetujui gagasan keturunan
Sesaat Arul dan Hilman berbincang ,gadis itu pun berkata.
“ aku tinggal dihotel loh, mau main ke hotelku gak??”
Haha.. tampang Arul dan Hilman sumringah, seperti ada 2 tanduk yang tumbuh diatas kepala mereka. Tak tahulah aku apa yang ada dipikiran mereka. Tapi entah kenapa mereka menolak tawaran gadis itu. Dan mereka berdua kembali bersama kami.
Tiba-tiba seorang penjaga pantai berteriak “hey, jangan berenang terlalu jauh!!”
Dia meneriaki gadis yang berkenalan dengan Arul dan Hilman tadi.
Gadis itu menjawab “ biarin, biar saja aku mati!!”
Haaa,, kami kaget mendengarnya. Usut punya usut, ternyata gadis itu stress kawan, gila, sakit jiwa tepatnya. Hal itu kami ketahui dari sang penjaga pantai. Hahaha.. Arul dan Hilman berkenalan dengan orang gila. Syukurin!!!
Sembari Ade, Arul dan Hilman bermain dipantai aku mengajak Ari ke universitas Bung hatta untuk mencari informasi. Karena itulah tujuanku sebenarnya kekota ini. hanya sebentar kami ke kampus tersebut, telah banyak yang aku ketahui tentang universitas tersebut dan seluruh informasi yang aku dapat akan menjadi laporanku kepada kedua orang tuaku.
Malam harinya kami berjalan-jalan di jembatan siti nurbaya, ramai sekali dijembatan itu kawan. Bermacam makanan dijajakan disana. Arul ingin sekali makan pisang kepit (makanan khas
Sudah satu minggu kami dikota ini, tujuanku telah tercapai. Batin temanku pun telah terpuaskan dengan liburan disini. Saatnya kami kembali ke pangkuan orang tua di
Perdebatan berakhir dengan keinginan untuk naik bus ber AC. Beruntung memang, Ari dibekali buah tangan oleh keluarganya. Banyak sekali oleh-oleh yang dibawa berupa keripik keras. Serta sarapan berupa kue serabi yang nikmat sangat kawan, ternyata kue inilah yang menyebabkan kamar mandi rumah itu penuh santan basi kawan. Kami pikir di Jambi Ari akan membagikan beberapa keripiik kerasnya untuk kami bawa pulang kerumah masing-masing. Haha.. berharap.
Saatnya pulang, kami memutuskan tak ingin menggunakan jasa family raya lagi, takut kejadian disaat berangkat terjadi lagi. Kali ini kami menggunakan jasa JATRA (Jambi transport). Disaat yang bersamaan tim ekspedisi yang mendaki gunung singgalang bersama Arul dan Ari juga berangkat pulang ke Jambi. Dan mereka menggunakan bus Family Raya yang kami gunakan saat berangkat kekota ini. beberapa jam bus berjalan akhirnya bus kami berpapasan dengan bus tim ekspedisi tersebut, benar saja kawan bus family raya itu mogok lagi. Untung saja kami tak naik bus itu lagi pikirku. Hahaha..
Bus pun berhenti untuk beristirahat, disebuah warung didekat tempat peristirahatan ada penjual oleh-oleh. Dengan sisa uangku aku pun berinisiatif membeli beberapa bungkus keripik sanjay (keripik balado) untuk oleh-oleh. Secara diam-diam aku memberikan satu bungkus untuk Ade, bukan bermaksud berpilih kasih tapi aku anggap dialah yang labih pantas aku berikan makanan itu untuk keluarganya. Bus pun kembali berjalan dari peristirahatan, selama 12 jam kami lalui dan akhirnya sampai dikota kecil nan bikin kangen itu. Turun dari bus tanpa malu-malu Arul meminta sedikit oleh-olehnya untuk kami. Tapi dengan muka ditekuk dan sedikit merengut Ari tak mau membagikan keripik kerasnya. Hanya untuk keluarganya dia beralasan. Kembali persahabatan kami diuji kawan,keegoisan masing-masing tak bisa diredam. Tapi sudahlah, biar saja Ari tak mau berbagi yang penting aku juga sudah membawa beberapa bungkus oleh-oleh pikirku picik. Kami berpisah menuju rumah masing-masing. Ade menunggu jemputan, Ari naek angkutan umum sendiri, sedang aku, Arul dan Hilman naek angkutan umum bersamaan karena rumah kami satu arah.
Itulah akhir perjalanan panjang ini, aku semakin tahu sifat masing-masing temanku. Membuatku rindu dengan teman-temanku itu. Berpikir akan kembali melakukan perjalanan panjang dan tidak menggunakan jasa Family Raya tentunya. Hahaha..
Bye…
Rabu, 08 April 2009
SENANDUNG LAGU HUJAN
Untuk merayakan hari jadi temanku, aku bersama teman-temanku berencana camping (berkemah) di hutan buluran. Perencanaan telah matang, alat-alat camping dan makanan-makanan siap saji telah dipersiapkan. Tak banyak yang akan ikut dengan kegiatan kami ini. Hanya sekitar 10 orang yang akan berpesta ala anak alam. Mereka adalah Mazharul haq (Arul), Arif wibowo (Arif), Budi setiawan (Budi/pak de), Riko midaya (Riko), Randy hidayatullah (Randy), Rocky, Suwandy (Wandy), Vertikal lature (Veri) serta aku dan Ade yang berulang tahun. Telah 18 tahun Ade ada di bumi.
Hutan buluran adalah satu tempat favorit kami untuk berkemah, biasanya satu bulan sekali di hari sabtu dan minggu kami selalu berkunjung dan bermalam di hutan ini. Lokasi yang kami pilih tak terlalu jauh dari pemukiman warga. Agar mudah meminta pertolongan jika terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Sekitar 100 meter dari belakang rumah Ketua RT kampung itu kami memilih lokasi tenda akan ditegakkan. Namun kami harus menyebrangi sebuah sungai kecil agar dapat mencapai lokasi. Orang-orang dan beberapa pecinta alam menyebut sungai ini dengan nama sungai kehidupan kawan.
Sore hari kami telah berkumpul di lokasi, pembagian tugas pun telah ditetapkan. Sebagian mendirikan tenda, sebagian lagi mencari kayu bakar untuk menyalakan api unggun malam harinya. Sekeliling tenda kami tebar garam agar hewan berbisa seperti ular enggan melewatinya. Malam ini menjadi milik kami sepenuhnya, tak boleh ada makhluk lain yang ikut bergabung dengan acara kami. Kami raja di lokasi ini untuk 24 jam kedepan. Haha..
Hari berangsur gelap, lampu badai (lampu teplok) mulai kami nyalakan setidaknya sedikit menerangi tenda-tenda kami. Peralatan memasak pun kami keluarkan dari carriel (tas ransel ukuran besar), bersiap membuat penganan pengisi perut dan minuman penghangat tubuh. Beberapa gelas teh hangat lumayan menetralkan udara malam yang semakin dingin menghujam badan. Petikkan gitar dari jari-jari yang mahir memainkannya terdengar memanja telinga, dan memacu hati untuk ikut bernyanyi dalam alunan suara gitar itu kawan.
Hmmm, malam semakin larut, udara pun semakin dingin. Tapi api unggun belum saatnya untuk dinyalakan. Kami akan menyalakan api unggun tepat tengah malam. Saat itulah kami anggap puncak dari berkemah sebenarnya. Badan yang bergetar karena lapar membuat kami mencoba memasak sesuatu. Indomie sudah pasti kawan, dan menanak nasi yang lebih mirip bubur saat sudah matang. Haha..
Tapi lumayanlah daripada cacing diperut terus berontak kawan.
Tepat tengah malam ritual pembakaran api unggun dimulai, kayu-kayu yang telah dipersiapkankan ditumpuk sedemikian rupa agar menghasilkan api yang besar. Tak lupa dibawah tumpukkan api itu kami letakkan ban bekas yang kami ambil di tempat pembuangan ban bekas kawan. Ban itu akan membuat api menyala sedikit lebih lama menurut kami. Tapi imbasnya seluruh benda yang terkena asapnya akan menjadi hitam, termasuk badan kami. Haha..
Api pun telah dinyalakan, kami mengelilingi api itu. Entah apa yang kami lakukan, seperti memuja api saja. Bernyanyi-nyanyi tanpa rasa malu. Yang ada dipikiran kami hanya bersenang-senang dan bersenang-senang. Tak pedulikan orang lain jika mereka tahu yang kami lakukan. Mengambil foto ditengah cahaya api yang besar, bercanda, tertawa seperti orang gila. Aku saja malu dengan kelakuanku itu. Haha..
Bodohnya lagi aku dan teman-temanku mengikuti ajakan Riko untuk berfoto dengan hanya menggunakan kancut (celana dalam). Seperti tak punya rasa malu kami bergaya dengan celana segitiga itu. Haha..
Dengan warna berbeda dari masing-masing kancut kami, bermacam
Malam semakin larut, mata tak kuat lagi menahan rasa kantuk. Secangkir kopi pun tak mampu melawan keinginan untuk bermimpi. Hanya beberapa orang yang tersisa untuk berjaga-jaga termasuk aku, yang lainnya sudah dialam bawah sadar. Budi pun mengambil gitar, aku tahu dia tak bisa memainkan alat melodies itu. Dengan suara fals dan petikkan yang semrawut pak de pun besenandung.
“jalan hidupku masih panjang” bait 1
“kami memang pengamen jalanan” bait 2
Masih banyak lagi lirik-lirik tak jelas keluar dari mulutnya, menurutnya itu lagu ciptaannya sendiri. Halah,, lebih mirip jampi-jampian pemanggil hujan menurutku. Benar saja kawan, tak lama setelah budi melantunkan lagunya terdengar suara bergemuruh. Dari kejauhan terdengar air berjatuhan menuju tenda kami. Hujan kawan, lebat sangat hujannya. Kontan, semua yang tertidur didalam tenda terbangun, tenda kami tak tahan hujan kawan. Harus dilapisi terpal diatasnya agar air hujan tak tembus. Tanpa pikir panjang, terpal yang lumayan besar untuk kami duduk diangkat keatas tenda. Tapi semua sudah terlambat, semuanya sudah basah. Semakin dingin kawan. Bibir kami bergetar dibuatnya. Akibat hujan yang lebat itu kami tak tidur hingga fajar menjelang.
Pagi pun tiba, suhu tubuh kami kembali normal karena diterpa sinar matahari. Aku dan teman-teman membersihkan badan yang sudah sangat lusuh di sungai tepat didepan tenda kami. Lalu bersiap-siap pulang kerumah. Kembali merasakan empuknya kasur kamar kami dan bertemu teman-teman lain disekolah.
Nanti apabila foto-foto kami telah dicetak akan kupajang di mading sekolah pikirku, biar semua teman-temanku yang ikut berkemah merasakan malu yang tak tertahankan, walaupun aku juga akan merasakan hal yang sama. Hahaha….
Bye..